Ditulis pada tanggal 15 September 2017, oleh admin, pada kategori Berita, Informasi, Kegiatan

Universitas Brawijaya mestinya sudah harus bergeser dari universitas pendidikan ke universitas penelitian. Salah satu indikator universitas penelitian adalah jumlah ruang kuliah dan laboratorium 60 banding 30. Demikian disampaikan Rektor Universitas Brawijaya pada Focus Group Discussion Kajian Sarana dan Prasarana Pendidikan, Rabu (13/9/2017), di Gedung Rektorat lantai 6.

Kebijakan perbandingan ruangan sebagaimana disampaikan Rektor tersebut  bisa dengan mudah diambil bila ada data yang valid terkait jumlah sarana dan prasarana pendidikan. Oleh karenanya Rektor menyambut baik inisiatif Pusat Pengembangan Manajemen Pendidikan (P2MP) LP3M untuk membuat database sarana dan prasarana UB.  Tapi ia berharap database yang nantinya terkumpul  tidak hanya menjadi data semata tapi juga bisa membantu manajemen pengelolaan ruangan.

Rektor mengingatkan agar sistem informasi Sarana dan Prasarana Pendidikan ini tidak menyimpang dari nomenklatur yang ada di SIMAK BMN (Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara).

Kepala P2MP Prof Dr Ir Hartutik MP mengatakan output dari FGD ini yakni UB memiliki database sarana prasarana. Database tersebut berisi kapasitas tampung kelas, ukuran dan sebagainya. Database tersebut akan dibuat sistem informasi untuk sarana dan prasarana yang pembuatannya bekerjasama dengan TIK UB.

Menurutnya tidak sulit mengumpulkan data yang terkait karena data di fakultas sudah lengkap. “Data di fakultas sudah ada, tinggal manajemennya'” ucapnya.[siti-rahma]


Hit Counter provided by shuttle service from lax